Air Mendadak Surut, Warga Maluku Tengah Mengungsi ke Gunung

gempa.jpg okSelaluBaruNet – Warga yang mendiami sejumlah desa di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, mendadak berhamburan keluar rumah dan lari ke gunung setelah air laut di pesisir pantai mendadak surut pada Rabu, 9 Desember 2015

Sebelum air surut, terjadi gempa yang cukup kuat, dan goncangannya dirasakan lama. Warga takut terjadi tsunami setelah gempa yang terjadi sekira pukul 20.30 WIT.

Bambang Tehuayo, seorang warga asal Desa Haruru di Kecamatan Tehoru, mengaku bahwa kini tidak ada lagi warga yang tinggal di rumah mereka. Hanya para lelaki yang memantau kondisi air laut di pesisir pantai karena air laut mendadak surut. “Ibu-ibu dan anak-anak sudah diungsikan ke gunung. Yang di desa tinggal para pemuda saja. Kami masih pantau kondisi di pesisir pantai,” kata Tehuayo kepada VIVA.co.id.

Tehuayo menambahkan, tidak ada kerugian materiil akibat gempa itu. Tapi selain air surut sepanjang 20 meter dari pesisir pantai, sumur-sumur warga di dalam desa juga mendadak kering.

“Gempa dirasakan sangat lama, hampir 30 menit. Sumur tetangga saya mendadak kering,” ujar Tehuayo.

Gempa

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa mengguncang wilayah di Indonesia. Lindu berkekuatan 6,9 skala richter melanda kawasan timur Indonesia, yakni Maluku Tengah.

BMKG menjelaskan, lokasi gempa berada 3.98 lintang selatan-129.56 bujur timur. Kedalaman gempa berada pada 10 kilometer. Titik gempa berlokasi sekitar 118 kilometer barat daya serambi bagian timur-Maluku, 160 kilometer tenggara serambi bagian barat-Maluku, 159 kilometer tenggara Ambon-Maluku, 2.537 kilometer timur laut Jakarta-Indonesia.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pusat gempa yang dangkal membuat getaran kuat dirasakan warga di Ambon, Banda, dan Maluku Tengah selama 3-5 detik. Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah dan berada di jalan.

Intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Ambon, IV MMI di Banda, II-III MMI di Masohi. Umumnya bangunan akan mengalami kerusakan berat jika intesitas lebih dari VI MMI.

“Meski begitu, belum ada laporan kerusakan bangunan dan korban,” tulis Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo, Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya.

Sumber:viva.co.id