Benarkah ISIS Momok Paling Ditakuti Arab?

isisSelaluBaruNet – Momok, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (online), berarti hantu untuk menakut-nakuti anak. Makna lainnya, ‘sesuatu yang menakutkan karena berbahaya, ganas, dan sebagainya’. Momok sering juga diidentikkan dengan dedemit,  tuyul, iblis, musuh, neraka, dan seterusnya. Intinya, momok adalah sesuatu yang super menakutkan.
Lalu momok apa yang paling ditakuti orang-orang Arab?Jawabannya, menurut media Aljazeera.net dan al Sharq al Awsat, adalah kelompok-kelompok radikal. Bahasa Arabnya jama’atu at-tathorruf. Kelompok-kelompok radikal ini bisa menggunakan nama yang macam-macam dan berbeda-beda. Ada tandzimu al-Qaidah (Alqaida), Jabhatu an-Nashrah, al-Hautsiyun, Bako Haram, al-Ansharu at-Tauhid, al-Ansharu al-Syari’ah, Taliban, dan Jamaah ad-Da’isy alias ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).

Dari kelompok-kelompok itu, ISIS jelas merupakan momok yang paling menakutkan, bukan hanya bagi Irak dan Suriah, namun juga buat negara-negara tetangga. Meminjam istilah dalam sepakbola, bahaya ISIS kini telah berada di depan gawang Arab Saudi, Turki, Lebanon, Yordania, dan negara-negara di kawasan Timur Tengah lainnya. Bahkan keberadaan ISIS juga telah mengancam kedamaian masyarakat internasional, termasuk negara Indonesia.

Kekhawatiran masyarakat Arab mengenai bahaya ISIS mulai muncul ketika mereka berhasil menguasai Mosul — kota terbesar kedua di Irak setelah Baghdad — pada Juni lalu. Apalagi beberapa hari kemudian ISIS mendeklarasikan sebuah negara kekhalifahan dengan Abu Bakar al-Badhdadi sebagai khalifah dan sekaligus amirul mukminin. Sejak itu berbagai seminar, konferensi, diskusi, dan halakah tentang deradikalisasi pun digelar oleh berbagai kalangan — baik di level pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi.

Seminar maupun diskusi itu telah diselenggarakan antara lain di Maroko, Sinegal, Tunisia, Lebanon, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Arab Saudi , Indonesia, dan lain-lain. Yang terbaru adalah konferensi internasional yang diselenggarakan bersama antara Universitas Al Azhar dan Pemerintah Arab Saudi di Kairo, Mesir tiga pekan lalu. Seminar selama dua hari itu dihadiri para ulama dan cendekiawan Muslim dari 120 negara.

Saya sendiri sebagai penulis buku ‘ISIS, Jihad atau Petualangan’ telah diundang oleh berbagai pihak dan kalangan. Termasuk pergi ke daerah-daerah untuk bedah buku dan menjelaskan tentang bahayanya ISIS bagi Indonesia yang mayoritas warganya merupakan Ahlus Sunah wal Jamaah (Aswaja). Yakni sebagai umat yang rahmatan lil alamin, teleran, moderat (wasathiyah), bijak (ad dakwah bil hikmah wal mau’idzotil hasanah), namun tegas dalam prinsip.

Saya berpandangan bahaya ISIS akan tetap menghantui masyarakat internasional pada tahun-tahun depan. Bahkan ketika ISIS bisa dihancurkan sekalipun seperti halnya Afghanistan pada masa Taliban, bahaya radikalisme akan terus ada. Karena itu saya sampaikan kepada para ulama, kiai, tuan guru, ajengan, ustad, dan tokoh-tokoh agama bahwa untuk menumpas gerakan radikalisme membutuhkan ‘nafas yang panjang’. Tugas kita untuk terus menerus memberikan pemahaman ajaran agama yang benar kepada masyarakat, utamanya para generasi muda.

Lalu di mana letak bahayanya ISIS dan kelompok-kelompok radikal lainnya? Bahaya itu terletak pada ideologi yang mendasari tindakan kelompok-kelompok radikal tersebut. Meskipun nama kelompok-kelompok radikal ini macam-macam, namun mereka mempunyai satu kesamaan: menghalalkan segala cara! Karena itu, tak aneh bila mereka enteng saja menggunakan berbagai kekerasan untuk sebuah tujuan. Termasuk menyiksa atau membunuh orang-orang sipil tak berdosa.

Lihatlah Jabhatu an-Nashrah di Suriah yang telah membunuh orang-orang Lebanon yang mereka culik. Juga kelompok ISIS yang dengan bangga merilis video pemenggalan wartawan Amerika dan pekerja kemanusiaan Inggris. Kemudian Bako Haram di Nigeria yang terang-terangan menculik anak-anak sekolah dan membunuh orang-orang asing. Yang terbaru adalah serangan Taliban yang menewaskan lebih dari 130 anak sekolah di Peshawar, Pakistan.

Dalam kasus ISIS, menurut media Al Sharq Al Awsat, ideologi mereka didasarkan pada fatwa-fatwa dari empat orang Mesir yang kini memegang otoritas tertinggi di lembaga Yudikatif negara pimpinan Abu Bakar al Baghdadi itu. Fatwa-fatwa keempat orang inilah yang mempunyai andil besar tindakan ISIS untuk menculik, membunuh, dan menjual perempuan-perempuan yang dianggap sebagai rampasan perang.

Keempat orang itu adalah Hilmy Hasyim dengan nama alias Syakir Ni’amullah, Abu Muslim al Masry (ketua Mahkamah Agung/Qodhy Qudhot ISIS), lalu seorang hakim di Kota Halb (Suriah) yangtelah terbunuh, dan Abu Harits al Masry.  Namun, di antara mereka ini yang paling berpengaruh dan mewarnai ideologi ISIS adalah Hilmy Hasyim. Ia merupakan tokoh kelompok radikal Mesir yang sedang dicari-cari oleh aparat keamanan setempat. Di Mesir ia dikenal sebagai tokoh takfiri dan dianggap telah keluar dari garis Islam alias Al Khowarij.

Salah satu bukunya yang terkenal adalah ‘Ahlu At Tawaqquf baina As Syakk wa Al Yaqin’.  Dalam bukunya, ia tidak hanya mengkafirkan pemimpin dan bangsa-bangsa yang tidak menerapkan hukum Islam, tapi juga mengkafirkan siapa saja yang tidak mengkafirkan mereka (bangsa-bangsa yang tidak menerapkan hukum Islam). Menurutnya, orang sudah menjadi kafir bila tidak mengkafirkan bangsa-bangsa kafir (mereka yang tidak menerapkan hukum Islam).

Bagi Hilmy Hasyim, barang siapa yang berhenti (tawaqqofa) mengkafirkan mereka (yang tak menerapkan hukum Islam), maka ia sudah kafir. Karena, menurutnya, setiap negara (ad dar/ad diyar) sekarang ini adalah negara kafir (wal ashlu fi ahliha al kufr) hingga mereka menerapkan hukum Islam. Dengan demikian siapa pun yang tidak mengkafirkan orang kafir maka ia adalah kafir, karena bertentangan dengan ashlu ad diin. Pendek kata, kelompok takfiri adalah mereka  yang gampang mengkafirkan siapa saja yang berbeda pandangan dengan mereka.

Hilmy Hasyim merupakan mantan perwira tentara Mesir. Karena terlibat dalam sejumlah tindakan terorisme (irhabiy) ia pun dipecat dari dinas ketentaraan dan dijebloskan ke penjara. Setelah keluar penjara ia mendalami fikih dan syariat. Dari sini ia kemudian mengeluarkan fatwa-fatwa takfiri yang berpengaruh besar pada  ideologi Abu Bakar al Baghdadi dan para pengikutnya.

Kini, tugas para ulama, kiai, intelektual, dan tokoh-tokoh agamalah untuk menggali ajaran dan ideologi kelompok-kelompok radikal seperti ISIS. Dari sini diharapkan mereka bisa memberi argumen tentang kesalahan-kesalahan, kelemahan, dan  pemahaman yang salah dari kelompok-kelompok takfiri ini.  Sebab bila kelompok takfiri ini dibiarkan akan sangat membayakan bagi keharmonisan  kehidupan keberagamaan kita. Wallahu a’lam bis shawab.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri