Benarkah Orang Tua Pantang Menangis didepan Anak?

ortuSelaluBaruNet -  Salah satu cara menjaga perasaan anak  agar tidak sedih melihat keadaan orang tuanya adalah dengan menahan emosi atau tangis dari kesedihan yang mendalam, meskipun kadang keluar juga.

Para ahli psikologi berpendapat sebenarnya bukan hal tabu bagi anak untuk melihat orangtuanya menangis karena itu sebenarnya emosi manusia yang normal. Akan tetapi ada batasan yang perlu diketahui orangtua.

Bayi, balita, dan anak-anak juga menangis. Mereka juga mengetahui bahwa menangis adalah ekspresi emosi yang disebabkan oleh beban berat dan terkadang dipicu oleh pengalaman buruk, rasa takut, sakit, bahkan sebuah ingatan tertentu.

Meskipun air mata juga bisa berasal dari perasaan gembira dan bahagia, tetapi tak semua orang merasa nyaman melihat orang lain menangis, apa pun penyebabnya. Apalagi jika yang menangis adalah orang dewasa, anak-anak sering tidak memahami alasannya.

Menurut Nancy S.Buck, psikolog, orangtua tak perlu terlalu takut untuk menangis di depan anak. “Itu adalah ekspresi normal. Toh kita tidak harus menyembunyikan tertawa di depan anak,” katanya.

Tapi, penting bagi orangtua untuk menjelaskan pada anak mengapa Anda menangs. “Bagian terpenting adalah proses menjelaskan pada anak sesuai dengan level pemahaman anak,” kata Jessica S.Campbell, terapis keluarga.

Orangtua sebaiknya menjelaskan apa yang terjadi dan yakinkan mereka bahwa tidak ada hal-hal yang akan mengganggu hidup mereka mesti orangtua sedang bersedih. Kemudian peluklah anak.

Bila orangtua tidak mau menjelaskan apa yang terjadi, anak bisa mengambil kesimpulan yang keliru.

“Anak kerap menyangka emosi kuat yang dialami orangtuanya disebabkan oleh ulah mereka. Katakan pada si kecil bahwa tak ada yang perlu dilakukan atau diucapkan. Tunggulah beberapa menit dan semua akan kembali baik lagi,” sarannya.

Tetapi Anda juga tidak perlu menjelaskan terlalu detil . Misalnya jika Anda habis bertengkar dengan pasangan, tak perlu menceritakan apa penyebabnya.

Selain itu, orangtua juga tidak perlu mengharapkan anak akan membuat perasaan menjadi nyaman. “Kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah berharap anak-anak akan membuat perasaan mereka nyaman kembali. Itu tidak adil, karena itu bukan tugas anak,” katanya.