Dari Ratapan Menjadi Tarian

dancingSelaluBaruNet – Satu syarat yang Tuhan tetapkan pada kita jika mau menjadi murid Yesus adalah sangkal diri dan pikul salib. Ketika kita ikuti sebuah organisasi maka ada persyaratan yang diikuti untuk bisa menjadi anggota kelompok tersebut. Salib selalu dekat dengan penderitaan, tapi salib juga berbicara tentang kemuliaan. Sebab itu saya ingin mengatakan bahwa tanpa penderitaan tidak ada kemuliaan. Matius 26:36

Tuhan tidak mau kita hanya sekedar menjadi murid saja tapi jadi murid yang dimuliakan. Sedangkan kemuliaan hanya ada ketika kita pikul salib. Ketika ada orang yang mendapatkan kemuliaan tanpa pikul salib maka itu adalah kemuliaan semu, tapi kemuliaan yang sebenarnya datang lewat sebuah proses yang kadang membawa kita pada penderitaan.

Celakanya adalah kita lebih sering berhenti pada penderitaan atau persoalan bahkan mutar-mutar pada proses melewati penderitaan tanpa pernah tahu jalan keluar. Terlalu banyak kita buang waktu dalam hal ini, itu sebabnya banyak orang kristen frustrasi, mundur sebelum sampai pada tahap kemuliaan. Penderitaan yang dialami Yesus beda dengan kita, Yesus alami penderitaan tapi tidak dari awal sampai akhir karena pada waktunya Dia harus mengalami kemuliaan saat itu juga. Sejak bumi diciptakan Tuhan berkata berkuasalah atas bumi dan segala isinya ini menunjukan bahwa tidak selamanya Tuhan itu jauh dari kita karena ada wktunya Tuhan ingin kita menikmati segala yang sudah dijanjikan buat kita.

Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. Pelajaran pertama yang diberikan berikan Tuhan buat kita adalah bagaimana mengatasi atau melewati hari yang penuh penderitaan. Dunia mengajarkan kesenangan semu dengan pergi ke diskotik, nonton film dan lain sebagainya, beda dengan cara yang diberikan Yesus. Ketika berada dalam penderitaan/masalah Tuhan berkata Berjaga-jaga dan berdoa, roh memang penurut, karena roh ini milik Tuhan tetapi daging lemah. Jika kita tidak dekat dengan Tuhan maka kita akan dikendalikan oleh daging akhirnya kalah dalam pergumulan.

Matius 26:37-38 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. Gentar, sedih, mau mati rasanya adalah tingkatan pernderitaan yang Yesus rasakan.

  1. Hal pertama yang dilakukan-Nya adalah berdoa. Ketika kita alami tahap penderitaan seperti itu maka doa adalah ritual pertama dilakukan dan tidak mencari kambing hitam.
  2. Kedua adalah Yesus memilih sahabat yang mengerti Dia. Ketika kita dalam penderitaan atau persoalan harus memilih sahabat yang menurut kita bisa memberi menguatkan dan bisa memberi solusi. Markus 14:36a, Ia maju sedikit, Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa,
  3. Hal ketiga yang dilakukan Yesus adalah memanggil Bapa. Ketika sampai pada puncak permasalahan maka setakut apapun keadaan kita, cukup panggil Dia “Bapa” aku perlu engkau aku perlu pertolongan-Mu, maka pada saat itu kita sudah meresakan ada seseorang yang membentengi, memberikan sukacita dan damai sejahtera.

Mengikuti cara Yesus melewati penderitaan yaitu pada hari ketiga Dia bangkit, tidak selamanya di kuburan, bukan selamanya Dia menderita, sama seperti kita tidak selamanya Tuhan membiarkan kita jadi orang yang hidup dalam persolan terus menerus dan menjadikan kita sebagai yatim piatu. Membuktikan Dia sayang dan pedulinya pada kita. Tidak ada kemuliaan tanpa salib, tidak ada berkat kelimpahan tanpa tanpa diawali penderitaan. Tuhan inginkan segala kesulitan, penyakit, kekurangan dan kelemahan bahkan segala konflik itu cepat berlalu tapi sering lama, kenapa ? karena kita tidak mau ikuti cara Tuhan melewati penderitaan. Ingat Didalam Tuhan segala yang mustahil sudah mati, dalam Tuhan oleh karena Dia hidup, ketika Dia bangkit maka yang mati adalah segala kemustahilan dan menjadikan semuanya menjadi mustahil atau pasti. “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku? Yeremia 32:27.

 

 Khotbah Disampaikan oleh Pdt Anton Tarigan di Bethany TOC Surabaya