“Kamu Sembelih Kepala Saya Pun, Saya Tetap Berdiri untuk Konstitusi”

ahokSelaluBaruNet – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjelaskan, lebih baik menjadi seorang negarawan daripada seorang politisi. Sebab, negarawan selalu mementingkan konstitusi di atas konstituen.
“Kalau menurut saya sederhana, sekarang satu orang satu suara, makanya kita bisa takut pada konstituen. Kalau mereka tidak memilih kita, ya kita kalah‎, padahal kita disumpah taat konstitusi,” ujar Basuki di hadapan ratusan mahasiswa Filsafat, di Balai Agung, Balai Kota DKI, Senin (3/11/2014).

“Jadi, seorang negarawan seharusnya taat pada konstitusi, bukan konstituen, dengan segala risiko yang ada. Bahasa kerennya, kamu sembelih kepala saya pun, saya tetap berdiri untuk konstitusi. Ini baru namanya seorang negarawan,” kata Basuki yang diiringi tepuk tangan para tamu undangan yang memenuhi ruang Balai Agung.

Seorang pemimpin dan negarawan yang baik, lanjut Basuki, adalah seorang yang mampu menciptakan pemimpin selanjutnya, dan tidak pernah takut mati dalam membela kepentingan rakyat.

Basuki pun belajar kepemimpinan dari ayahnya, Indra Tjahaja Purnama. Sang ayah baru dapat meninggalkan dunia dengan tenang seusai ia berhasil membentuk kepribadian Basuki untuk menjadi seorang negarawan. Semasa hidupnya, Indra bertekad menjadikan Basuki sebagai seorang pemimpin yang bisa membantu warga kurang mampu.

Basuki menyadari, sikap sang ayah yang diadopsinya hingga saat ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat luas. Tak sedikit pihak yang menolak Basuki menjadi seorang pemimpin. Salah satu contohnya adalah beberapa organisasi masyarakat (ormas) yang menolaknya menjadi gubernur DKI Jakarta. Padahal sesuai peraturan yang berlaku, Basuki berhak menduduki posisi Gubernur DKI menggantikan Joko Widodo hingga masa jabatan berakhir, yaitu pada Oktober 2017.

“Dalam melakukan perubahan menjadi lebih baik, yang paling penting bagi saya itu bukan membenci orangnya. Saya hanya benci kelakuan, dan sayang sama orangnya. Karena setiap orang itu berharga, makanya kita sayang kepada manusia yang berharga itu, dan kita benci kelakuannya yang salah. Selanjutnya kita tegur, kita ajarkan, dan kadang memang harus dihukum,” pungkas Basuki.

Sumber:kompas.com