Kebiasaan Berbagi Mengurangi Stres dan Depresi

stressSelaluBaruNet – Ada orang yang merasa rasa stresnya akan berkurang setelah ia makan, atau baru merasa bahagia jika ia bisa memiliki gadget terbaru dan berlibur ke negeri impian. Padahal, kebahagiaan juga bisa didapatkan dengan cara berbagi kepada orang lain.Dalam buku Give & Take yang ditulis oleh profesor Adam Grant, ia memaparkan konsep “membantu orang dalam 100 jam”. Menurutnya, meluangkan waktu selama 100 jam dalam setahun, atau rata-rata 5 menit sehari untuk membantu sesama manusia, dapat menimbulkan rasa kebahagiaan dan mengurangi rasa depresi dan stres.

Psikolog anak dan remaja dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan bahwa ketika kita bisa menolong seseorang atau membahagiakan orang lain maka rasa bahagia muncul secara otomatis dalam diri kita.

“Manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Maka dari itu setiap manusia mempunyai mekanisme secara otomatis, jika memberi sesuatu kepada orang lain maka akan timbul dalam diri perasaan senang dan bahagia. Walaupun respon dari orang tersebut hanya sederhana,” ungkap Vera.

Perasaan bahagia dan senang membawa aura positif dalam diri. Aura positif itulah yang akan mengurangi rasa depresi atau stres yang dialami. Tentunya, sifat berbagi tersebut tak boleh mengharapkan suatu imbalan dari orang yang kita beri. Hal ini pula yang harus diingatkan pada anak-anak saat mengajarkan mereka kebiasaan berbagi.

“Jangan mengharapkan sesuatu dari orang yang kita beri, anggap saja bahwa kita hanya memberi, cukup sampai disitu. Entah tanggapan atau respon apa yang diberikan orang lain , kita tak boleh menyesal terhadap apa yang sudah kita lakukan,” katanya.

Menurut data World Happiness Report 2013 yang dirilis oleh Persatuan Bangsa-Bangsa, Indonesia menempati peringkat ke 76 sebagai negara paling bahagia di dunia, di bawah Thailand (36) dan Malaysia (56).

Untuk menjadikan masyarakat Indonesia lebih bahagia dengan berbagi dan meningkatkan kepedulian bagi sesama, Save a Teen mengajak keluarga dan remaja Indonesia menjadi Generasi Berbagi. Kita bisa memulainya dengan Aksi 5 Menit Biasa Berbagi untuk membantu anak-anak prasejahtera yang putus sekolah, namun memiliki prestasi yang baik.

“Kami berharap keluarga dan remaja Indonesia akan turut berpartisipasi aktif dalam aksi ini. Tak hanya materi, aksi ini juga bisa dilakukan dengan men-share informasi yang diambil dari akun twitter @Saveateen dan laman facebook Save a Teen World ke akun pribadi mereka,” ujar Imran Razy, Fourdraising Manager Putra Sampoerna Foundation.

Aksi 5 Menit Berbagi ini diharapkan bisa menanamkan kebiasaan peduli dan empati pada anak dan remaja sejak dini. Dr Maxwell Maltz dalam bukunya Psycho Cybernetics menyimpulkan bahwa butuh waktu minimal 21 hari untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru yang akan terus melekat jika dilakukan secara konsisten.

“Dengan meluangkan waktu 5 menit selama 21 hari berturut-turut, orang tua dapat menanamkan kebiasaan berbagi yang kemudian bisa menjadi bekal penting bagi anak untuk dapat terus berbagi kepada orang-orang di sekitarnta sekaligus menjalani kehidupan yang lebih bahagia,” ungkap Vera.

Sigi Wimala, yang ditunjuk sebagai Brand Ambassador Save a Teen juga mengungkapkan bahwa berbagi itu sesuatu yang sangat sederhana dan bukan sesuatu yang sulit. Masyarakat bisa melakukannya dengan cara apapun.

“Ajarkan anak berbagi dari hal yang simple tapi terus-menerus dan jangan menilai uang sebagai patokannya. Seperti contoh jika ada sesuatu misalnya mainan atau apapun itu milik anak yang sudah tidak dibutuhkan, maka didik anak kita untuk menyerahkan sesuatu tersebut kepada orang yang lebih membutuhkan. Hal yang kecil seperti ini terbukti lebih sukses,” kata Sigi.

Mengajarkan anak-anak perilaku mau berbagi bisa disesuaikan dengan usia dan tahap perkembanga psikologi anak. Kuncinya adalah beri anak banyak kesempatan untuk berbagi. Tapi tentunya orangtua harus memberi contoh bahwa berbagi itu menyenangkan.

Pada anak-anak, sikap berbagi bisa diajarkan misalnya dengan mendorong anak ikut membantu pekerjaan rumah seperti membereskan mainan, meminjamkan mainan kepada teman atau adiknya, dan sebagainya.

Sumber:kompas.com