Mengalahkan Kejahatan Dengan Kebaikan

p samSelaluBaruNet – Pada dasarnya, ketika kita membalas kejahatan dengan kejahatan artinya kita sudah kalah dengan kejahatan. Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Roma yang pada masa itu sedang mengalami penganiayaan hebat karena iman mereka kepada  Kristus agar tidak kalah dengan kejahatan, melainkan mengalahkan kejahatan itu dengan kebaikan. (Pembacaan di Roma 12:9-21)

Hal ini sama dengan perintah Tuhan Yesus untuk memberikan pipi kanan setelah pipi kiri kita ditampar. Artinya, kita sebagai orang beriman tidak dianjurkan untuk membalas dendam. Pembalasan dendam adalah bukti bahwa kita telah dikalahkan oleh Iblis yang menggoda hati kita untuk melakukan kejahatan. 1 Yohanes 4: 7-8 berkata,  Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Jika kita tahu bahwa kita ini berasal dari Allah maka kita harus punya hati yang penuh kasih yang bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Roma 12:21 berkata, Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Nah, bagaimana caranya agar kita dapat mengalahkan kejahatan? Firman Tuhan menyebutkan satu-satunya cara, adalah dengan kasih. Ada seorang pemungut pajak jahat bernama Zakheus, yang kemudian berubah 180 derajat menjadi seorang yang baik. Apa yang membuatnya berubah? Salah satunya adalah karena Tuhan Yesus telah menunjukkan kebaikan kepadanya dengan singgah di rumahnya. Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatannya itu dengan kebaikan.  I Petrus 4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Bagaimana dengan kita? Adakah di antara kita yang masih suka menyimpan dendam? Kita harus belajar menanggalkan dendam itu, sebaliknya, harus belajar untuk menunjukkan kebaikan kepada orang-orang yang mungkin menjahati kita. Siapa tahu, orang itu justru akan bertobat karena kita, dan bahkan menjadi sahabat terbaik kita sampai tua?

Kasih itu harus selalu menyertai hidup kita supaya kita bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Bagaimana sikap kita ketika diperhadapkan pada kesempatan untuk membalas atas kejahatan  yang telah orang lain lakukan terhadap kita? Menggunakan kesempatan itu untuk membalas kejahatan mereka? Atau bahkan kita justru mencari-cari kesempatan untuk membalas. Seringkali  tanpa kita sadar doa-doa yang kita naikkan kepada Tuhan adalah doa-doa yang berisi pembalasan dendam. Membalas kejahatan dengan kejahatan hanyalah sebuah pemenuhan kepuasan hati sesaat, tapi jika kita menginginkan kemenangan mutlak balaslah kejahatan dengan kebaikan dengan ketulusan hati.

Perjuangan selanjutnya yang kita lakukan dalam melawan kejahatan adalah dengan memiliki ketenangan yaitu harus bisa menguasai diri. Yesaya 30:15 berkata, Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.  Ketenangan merupakan salah satu cara untuk mengalahkan kejahatan. Yakub adalah seorang yang tenang, meskipun dijahati oleh mertuanya, bahkan dia berkata kepada isteri-isterinya, “Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku.

Ketika kita kita tinggal tenang bersama Tuhan maka perlakuan jahat apapun yang dilakukan orang terhjadap kita, itu tidak akan menimpa kita karena  Allah akan mengubahnya menjadi kebaikan. Jika kita tenang maka kita bisa menguasai diri dengan menyerahkan semuanya pada Tuhan sehingga Tuhanlah yang menjadi pembela kita. Ingat waktu Tuhan yang akan menyatakan semuanya. Jika kita mengalahkan kejahatan dengan kebaikan maka Allahlah yang akan membela kita. Kejadian 31:29 Aku ini berkuasa untuk berbuat jahat kepadamu, tetapi Allah ayahmu telah berfirman kepadaku tadi malam: Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah kata pun.

 

                                       Oleh Pdt Samuel Harto di Bethany TOC Surabaya