Polwan Afganistan Berperang Lawan Pelecehan Seksual

polwan kabulSelalubaruNet – Sebuah laporan PBB yang tidak dipublikasikan tentang polisi wanita (polwan) di Afganistan mengungkapkan sejumlah hal tentang kekerasan seksual dan pelecehan luas yang mereka alami yang justru dilakukan rekan-rekan pria mereka. Harian New York Times menyingkap hal itu, Selasa (17/9/2013), berdasarkan penuturan sejumlah pejabat Afganistan dan Barat yang akrab dengan laporan tersebut.

Laporan itu, yang PBB edarkan hanya di kalangan para pejabat senior Afganistan di Kementerian Dalam Negeri mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen polwan yang diwawancarai telah menjelaskan tentang pelecehan dan kekerasan seksual sebagai masalah serius, dan bahwa sekitar 70 persen polwan mengatakan bahwa mereka secara pribadi mengalami pelecehan seksual atau kekerasan seksual itu. Demikian menurut orang-orang yang melihat laporan itu atau yang telah dijelaskan tentang laporan tersebut.

New York Times melaporkan, walau harian itu tidak mendapat laporan tersebut atau laporan itu belum pernah dipublikasikan, dua laporan terbaru lainnya telah menyinggung masalah serupa, meskipun keduanya tidak fokus pada isu kekerasan seksual dan pelecehan terhadap polwan.

Ghulam Mujtaba Patang, yang mengundurkan diri sebagai Menteri Dalam Negeri Afganistan pada Agustus, menggambarkan garis besar laporan PBB itu. Namun dia mempertanyakan temuan tersebut. Dia mengatakan bahwa setelah membaca laporan itu, ia mengirim tim untuk menyelidiki kondisi polwan dan bahwa tidak seorang pun polwan yang berbicara kepada timnya mengeluhkan pelecehan tersebut.

“Jika seorang polwan Afganistan diperkosa atau dilecehkan secara seksual, mereka akan melaporkan itu, mereka tidak akan merahasiakannya,” katanya seperti dikutip New York Times.

Ketua Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan, Seddiq Seddiqi, mengatakan laporan itu “melebih-lebihkan isu-isu dan masalah tersebut”.

Namun, kedua pria itu berkeras bahwa kementerian berkomitmen untuk memperbaiki kondisi polwan.

Di Afganistan para korban serangan seksual sering dituduh tidak bermoral, disingkirkan, bahkan dipenjara. Para pembela hak-hak perempuan mengatakan bahwa para polwan Afganistan takut dihukum jika mengungkapkan masalah itu. Karena itu sulit membuat mereka berbicara tentang pelecehan tersebut. Hal itu tambah sulit lagi jika orang yang melakukan pelecehan seksual tersebut adalah komandan mereka sendiri atau salah satu teman dekat sang komandan di kepolisian.

Para perempuan yang diwawancarai The New York Times mengatakan mereka takut dipecat atau diturunkan pangkatnya, atau dikirim ke tempat tugas yang jauh dari rumah mereka jika mereka mengadu.

Sebagian besar polwan menjadi petugas keamanan tingkat rendah di pos-pos pemeriksaan atau gedung-gedung pemerintah, dan dalam banyak kasus mereka merupakan tulang punggung keluarga untuk mendapatkan uang dan sangat membutuhkan gaji mereka, yang biasanya sekitar 260 dollar AS (Rp 2,9 juta) per bulan.

Sebuah dampak negatif lanjutan dari berbicara terbuka tentang pelecehan seksual atau pemaksaan adalah bahwa banyak warga Afganistan percaya polwan itu kurang bermoral, hanya karena mereka bersedia bekerja di depan umum dengan para pria yang bukan keluarga mereka. Jika seorang perempuan mengakui bahwa ia berada di bawah tekanan untuk berhubungan seks, para kerabat yang konservatif mungkin akan memaksa dia untuk berhenti atau bahkan membunuhnya demi menebus apa yang dianggap sebagai aib bagi keluarga.

Patang mengatakan dirinya telah mengunjungi para polwan di semua provinsi dan belum pernah mendengar keluhan tentang pelecehan seksual. Menurut dia, sebagian besar mereka mengeluhkan ketidakpuasan soal gaji atau kurangnya promosi. “Saya pikir alasan mereka mengatakan hal-hal semacam itu kepada PBB dan tidak menyebutkan itu kepada tim pemeriksa saya adalah terutama karena para perempuan buta huruf yang berpikir mereka mungkin mendapatkan lebih banyak perhatian dan dukungan dengan membuat keluhan tersebut,” katanya.

Situasi polwan jadi lebih sulit karena jumlah mereka yang begitu sedikit, hanya hampir 1 persen total pasukan yang mencapai sekitar 155.000 anggota.

Seorang polwan dari Afganistan timur yang tidak mau disebut jati dirinya mengatakan, dia satu-satunya perempuan di antara lebih dari 20 pria yang bekerja di posnya. “Saya sudah minta pindah, kaum pria berlaku tidak baik di sana,” katanya. “Mereka membuat lelucon murahan yang jorok setiap kali saya datang, dan seorang rekan pria yang melirik saya setiap hari mengatakan, ‘Bicaralah padaku, pergilah bersamaku’. Apa yang harus saya lakukan?” kata polwan itu.

Walau mempertanyakan temuan laporan itu, para pejabat Kementerian Dalam Negeri itu mengatakan mereka sedang berupaya untuk memperbaiki kondisi para polwan. “Kami sedang bekerja serius untuk memastikan para perempuan itu bahagia dan perempuan memiliki lingkungan yang terbaik untuk melayani negara mereka,” kata Seddiqi. Ia menambahkan, menteri yang baru, Umar Daudzai, ingin merekrut 10.000 polwan hinga akhir 2014. Selain itu, kementerian akan berusaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran polwan, tambah Seddiqi.

 

sumber:kompas.com