Respons Dunia atas Tragedi Ketiga Pesawat Malaysia

by liputan 6.com

by liputan 6.com

SelaluBaruNet – Ada sedikitnya tiga hal yang menjadi pusat perhatian berbagai media internasional, saat pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 dilaporkan hilang, pada Minggu, 28 Desember 2014. Tiga hal itu yaitu Malaysia, MH370, dan Indonesia.
Dua tragedi sebelumnya melibatkan pesawat milik Malaysia Airlines, yaitu pesawat MH370 yang hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing, pada 8 Maret lalu.
Peristiwa hilangnya pesawat AirAsia, dengan cepat dikaitkan dengan tragedi MH370 yang belum juga ditemukan sampai sekarang.

Kemudian Indonesia, yang dikaitkan dengan buruknya catatan keselamatan penerbangan di negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa itu. Termasuk kemampuan untuk melakukan pencarian, dengan minimnya perlengkapan teknologi tinggi yang dimiliki.

Teknologi Pencarian
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya FHB Soelistyo, Senin, 29 Desember, mengatakan bahwa saat ini terdapat kendala dalam pencarian pesawat, terkait dengan kebutuhan beberapa alat penunjang yang tidak dimiliki Indonesia.

“Kita butuh dua alat, yakni marine detector, digunakan untuk mendeteksi pesawat yang diduga jatuh ke air dan satu lagi untuk menindaklanjuti lokasi dengan evakuasi dengan submersible capsule,” ujar Soelistyo.

Beberapa negara telah menawarkan bantuan saat ini, seperti Singapura dan Australia dengan pesawat dan perangkat penangkap sinyal dari kotak hitam. Sementara itu, untuk kapsul penyelam baru dimiliki Amerika Serikat (AS) dan Prancis.

Catatan Keamanan

Sedikitnya 30 persen kecelakaan pesawat di seluruh dunia, disebabkan oleh cuaca buruk. Daily Mail dalam laporannya, Minggu, menyebut fakta itu diabaikan dengan tidak adanya sistem deteksi di banyak bandara Indonesia dan Indonesia disebut tidak memiliki cukup tenaga berkualitas, baik itu pilot, maupun mekanik.

Jurnal Penerbangan Orient menyebut 70 persen rute tersibuk dunia, melakukan perjalanan melalui Asia Tenggara. Pakar penerbangan, Peter Stuart Smith, yang dikutip dalam laporan Mirror, menyebut aneh bahwa QZ8501 tidak melakukan kontak dengan ATC.  “Bahkan jika kita berasumsi bahwa pesawat menghadapi cuaca sangat buruk, dan pecah di udara,” katanya.

“Jelas prioritas utama pilot adalah menerbangkan pesawat, tapi mengirim sebuah pesan pada ATC tentang apa yang terjadi, hanya beberapa detik untuk mengirimkan sinyal pada kotak SSR, yang akan memperingatkan ATC bahwa ada masalah,” tambahnya.

Lebih Mudah

Kondisi itu diyakini lebih mudah menemukan pencarian puing-puing di Laut Jawa, Goelz menyebut keberadaan pesawat sudah dapat diprediksi. Sementara itu, dalam kasus AirAsia, pemerintah Indonesia dan maskapai terlihat menggunakan pendekatan yang lebih sesuai. CEO AirAsia Tony Fernandes bahkan turun langsung, dan aktif melakukan berkomunikasi dengan publik melalui media sosial.

 

Sumber:viva.co.id