Tak Punya Sejarah Oposisi, Golkar Akan Tinggalkan Koalisi Prabowo

golkar prabowo.jpg okSelaluBaruNet – Partai Golkar diprediksi akan mengalami dinamika internal yang berujung pada berubahnya peta politik pasca-penetapan hasil pemenang Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum pada 22 Juli mendatang.

Dengan sejarah Partai Golkar yang tidak pernah menjadi oposisi, atau selama ini selalu berada di dalam kekuasaan, maka partai berlambang pohon beringin ini dinilai lebih berpeluang besar mendukung pasangan Jokowi-JK di pemerintahan selama lima tahun mendatang.

“Golkar tidak pernah berada di luar kekuasaan, sehingga pasti akan memainkan politik baru,” kata pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Haryadi, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (15/7/2014) malam.

Apalagi, lanjut dia, sekarang ini di internal Golkar sudah mulai mengalir wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang dipercepat, dengan agenda mengevaluasi kepemimpinan ketua umum Aburizal Bakrie.

Jika Munaslub itu sukses, Golkar diyakini dapat memberikan dukungan kepada kandidat presiden dan wakil presiden lain.

Menurut Haryadi, bukan tidak mungkin Aburizal bisa tergeser dari jabatannya karena berbagai evaluasi dan penilaian atas ketidaktepatan langkah politik Partai Golkar.

Setelah gagal mengusung calon presiden atau pun wakil presiden, kini Golkar berpeluang gagal masuk ke pemerintahan karena bergabung di koalisi merah putih.

“Soal kemudian apakah kubu Jokowi-JK akan menerima kehadiran Partai Golkar, apapun keputusannya nanti sangat mempengaruhi peta perpolitikan ke depan,” ujarnya.

Menurut dia, jika kemudian pada akhirnya Jokowi-JK menolak berkoalisi, maka itu akan menjadi pendidikan politik berharga bagi Golkar. Partai berlambang pohon beringin itu bisa menyadari, bahwa dalam berpolitik tidak harus selalu berada di dalam kekuasaan.

 

 

Sumber:kompas.com