Tewaskan Putrinya Ulama Saudi Hanya Dibui

ulama dibuiSelaluBaruNet – Seorang ulama Arab Saudi yang dituduh telah menyiksa putrinya yang berusia lima tahun dan memukulinya hingga tewas divonis hukuman delapan tahun penjara dan hukum cambuk 600 kali.

Kasus Fayhan al Ghamdi menjadi berita utama di seluruh dunia awal tahun ini ketika pengadilan Saudi diduga mungkin akan membiarkan ulama itu lolos dari hukuman. Para aktivis lalu memulai kampanye yang dinamai sesuai nama putrinya, “Saya Lama”, untuk menekan pihak berwenang agar mencegah Ghamdi bebas.

Al Ghamdi tidak diakui sebagai ulama oleh lembaga keagamaan Saudi.

Rincian mengerikan tentang pelecehan yang diderita Lama al Ghamdi terungkap dalam catatan medis rumah sakit tempat dia dirawat selama 10 bulan sebelum akhirnya meninggal. Rusuk bocah itu patah, kuku tangan robek, dan tengkoraknya remuk. Dia dipukul dengan tongkat dan kabel listrik. Dia juga menderita luka bakar.

Kekerasan itu terjadi saat gadis cilik itu tinggal bersama sang ayah, yang telah berpisah dari ibunya.

Dilaporkan bahwa al Ghamdi menduga putrinya telah kehilangan keperawanannya. Ia lalu memukul dan menganiayanya sebagai tanggapan atas kehilangan keperawanan itu. Bahkan, ada dugaan, sang ayah telah memerkosa sendiri putrinya itu. Namun, hal itu dibantah oleh ibu korban.

Kemarahan atas kasus itu menjadi semakin intensif pada awal tahun ini ketika para aktivis mengatakan bahwa Ghamdi mungkin akan melenggang bebas meski mengaku telah memukuli Lama.

Hakim dalam kasus itu menyatakan bahwa salah satu hukum Islam menyatakan seorang ayah tidak bisa dimintai bertanggung jawab penuh atas kematian anak-anaknya.

Para aktivis memperingatkan bahwa sepertinya Ghamdi mungkin akan dilepaskan jika sang ibu menerima uang darah.

Kisah itu menjadi berita utama di seluruh dunia.

Kasus itu membuka penganiayaan terhadap anak di Arab Saudi di mana para aktivis HAM mengatakan, aturan yang ketat tentang privasi keluarga dan tradisi patriarkal membuat penganiayaan terhadap anak menjadi masalah serius.

Salah seorang aktivis yang terlibat dalam kampanye untuk Lama, yaitu Aziz al-Yousef, mengatakan kepada BBC bahwa ia kecewa Fahyan al Ghamdi tidak mendapat hukuman seumur hidup.

Ibu bocah itu pada akhirnya menerima tawaran uang darah meski dia pernah berkata bahwa dirinya tidak akan mengambil uang itu. Sang ibu mengatakan bahwa dirinya membutuhkan uang itu untuk membantu membesarkan anak-anaknya masih hidup. Hal itu membuat hukuman seumur hidup dikesampingkan.

Aktivis lain yang berjuang untuk hukuman yang lebih lama, yaitu Manal al Sharif, mengatakan kepada BBC bahwa dia tidak percaya hukuman itu cukup memadai. Namun, dia merasa bahwa kampanye Saya Lama, dengan tekanan internasional terhadap pihak berwenang, telah berperan dalam melahirkan vonis baru dalam hukum di Saudi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kekerasan di dalam rumah tangga. Namun, dia menambahkan, dirinya masih ingin melihat seberapa efektif hal itu akan ditegakkan dalam praktiknya

 

sumber:kompas.com